Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
发布时间:2026-09-18 | 浏览:1
Berikut adalah penjelasan mengenai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) , mencakup definisi, klasifikasi, komponen, hingga formulasi penulisan diagnosis keperawatan dalam praktik klinis.
A. Definisi Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
B. Klasifikasi Diagnosis Keperawatan 1. Kategori Fisiologis 2. Kategori Psikologis 3. Kategori Perilaku 4. Kategori Relasional 5. Kategori Lingkungan Koreksi Penting Kategori Diagnosis Keperawatan
1. Kategori Fisiologis
2. Kategori Psikologis
3. Kategori Perilaku
4. Kategori Relasional
5. Kategori Lingkungan Koreksi Penting Kategori Diagnosis Keperawatan
Koreksi Penting Kategori Diagnosis Keperawatan
C. Jenis Diagnosis Keperawatan 1. Diagnosis Negatif a. Diagnosis Aktual b. Diagnosis Risiko 2. Diagnosis Positif (Promosi Kesehatan)
1. Diagnosis Negatif a. Diagnosis Aktual b. Diagnosis Risiko
a. Diagnosis Aktual
b. Diagnosis Risiko
2. Diagnosis Positif (Promosi Kesehatan)
D. Komponen Diagnosis Keperawatan 1. Label Diagnosis (Problem) 2. Definisi 3. Penyebab (Etiologi) atau Faktor Risiko Etiologi Faktor Risiko 4. Tanda dan Gejala (Indikator Diagnosis Keperawatan) a. Tanda dan Gejala Mayor b. Tanda dan Gejala Minor Koreksi Penting
1. Label Diagnosis (Problem)
3. Penyebab (Etiologi) atau Faktor Risiko
Etiologi Faktor Risiko
4. Tanda dan Gejala (Indikator Diagnosis Keperawatan) a. Tanda dan Gejala Mayor b. Tanda dan Gejala Minor Koreksi Penting
a. Tanda dan Gejala Mayor
b. Tanda dan Gejala Minor
Koreksi Penting
E. Formulasi Penulisan Diagnosis Keperawatan 1. Diagnosis Aktual PES 2. Diagnosis Risiko PR Rumus: Contoh: Koreksi Penting 3. Diagnosis Keperawatan: Promosi Kesehatan PS Rumus: Contoh:
1. Diagnosis Aktual PES
2. Diagnosis Risiko PR Rumus: Contoh: Koreksi Penting
Koreksi Penting
3. Diagnosis Keperawatan: Promosi Kesehatan PS Rumus: Contoh:
F. Pentingnya Tanda Mayor dan Minor Dalam Diagnosis Keperawatan Penurunan Curah Jantung
Penurunan Curah Jantung
G. Struktur Hierarki Penulisan Dokumen (Nomenklatur) Contoh: A. Kategori Fisiologis
Contoh: A. Kategori Fisiologis
A. Kategori Fisiologis
H. Hubungan SDKI, SLKI, dan SIKI
I. Sumber Referensi
A. Definisi Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) adalah standar nasional yang disusun oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia sebagai pedoman resmi dalam menetapkan diagnosis keperawatan di Indonesia. Adapun daftar SDKI bisa kita baca pada link: SDKI : Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia
SDKI disusun untuk:
menyeragamkan bahasa diagnosis keperawatan,
meningkatkan mutu asuhan keperawatan ,
mempermudah komunikasi antar tenaga kesehatan,
mendukung dokumentasi keperawatan,
menjadi dasar pengembangan sistem informasi keperawatan.
Sebelum adanya SDKI , banyak perawat menggunakan referensi internasional seperti:
NANDA International
ICNP (International Classification for Nursing Practice)
Namun, penggunaan terminologi internasional sering menimbulkan perbedaan interpretasi dalam konteks budaya, pendidikan, dan praktik klinik di Indonesia. Oleh karena itu, SDKI hadir sebagai standar nasional yang disesuaikan dengan kebutuhan praktik keperawatan Indonesia.
SDKI merupakan bagian dari tiga standar utama keperawatan Indonesia:
SDKI → Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
SLKI → Standar Luaran Keperawatan Indonesia
SIKI → Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Ketiga standar tersebut digunakan secara terintegrasi dalam proses asuhan keperawatan.
B. Klasifikasi Diagnosis Keperawatan
SDKI mengelompokkan diagnosis keperawatan ke dalam beberapa kategori dan subkategori untuk mempermudah identifikasi masalah pasien.
1. Kategori Fisiologis
Mencakup respons biologis dan fungsi fisik tubuh, meliputi:
nutrisi dan cairan,
aktivitas dan istirahat,
reproduksi dan seksualitas.
2. Kategori Psikologis
Mencakup aspek psikologis dan emosional, meliputi:
nyeri dan kenyamanan,
integritas ego,
pertumbuhan dan perkembangan.
3. Kategori Perilaku
Mencakup perilaku kesehatan individu, meliputi:
kebersihan diri,
penyuluhan dan pembelajaran,
kepatuhan program terapeutik.
4. Kategori Relasional
Mencakup hubungan sosial dan interaksi interpersonal.
5. Kategori Lingkungan
Mencakup keamanan, proteksi, dan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan.
Koreksi Penting Kategori Diagnosis Keperawatan
Pernyataan bahwa SDKI memiliki “5 kategori dan 14 subkategori” kurang tepat jika dianggap baku absolut, karena jumlah subkategori dapat berkembang sesuai revisi SDKI. Yang lebih tepat adalah:
SDKI mengelompokkan diagnosis ke dalam kategori dan subkategori berdasarkan respons manusia terhadap masalah kesehatan.
C. Jenis Diagnosis Keperawatan
Dalam SDKI, diagnosis keperawatan dibagi menjadi dua kelompok besar:
1. Diagnosis Negatif
Menunjukkan adanya masalah kesehatan atau risiko masalah kesehatan.
a. Diagnosis Aktual
Masalah kesehatan yang sudah terjadi dan didukung oleh tanda/gejala klinis.
b. Diagnosis Risiko
Masalah kesehatan yang belum terjadi, tetapi individu memiliki faktor risiko untuk mengalaminya.
2. Diagnosis Positif (Promosi Kesehatan)
Menunjukkan kesiapan individu, keluarga, atau komunitas untuk meningkatkan status kesehatannya ke tingkat yang lebih optimal.
Kesiapan peningkatan nutrisi
Kesiapan peningkatan manajemen kesehatan
D. Komponen Diagnosis Keperawatan
Setiap diagnosis dalam SDKI memiliki komponen utama sebagai berikut:
1. Label Diagnosis (Problem)
Merupakan nama atau inti masalah keperawatan yang menggambarkan respons pasien terhadap kondisi kesehatan.
Contohnya, yakni sebagai berikut:
Gangguan pertukaran gas
Menjelaskan makna diagnosis secara singkat dan jelas.
3. Penyebab (Etiologi) atau Faktor Risiko
Faktor yang menyebabkan atau mempengaruhi munculnya masalah.
Digunakan pada diagnosis aktual.
Kondisi yang meningkatkan kerentanan pasien terhadap suatu masalah.
Digunakan pada diagnosis risiko.
4. Tanda dan Gejala (Indikator Diagnosis Keperawatan)
Indikator diagnostik dibedakan menjadi:
a. Tanda dan Gejala Mayor
indikator utama,
harus ditemukan untuk menegakkan diagnosis,
memiliki validitas tinggi.
b. Tanda dan Gejala Minor
indikator pendukung,
tidak wajib ditemukan,
memperkuat diagnosis jika ada.
Koreksi Penting
“Memiliki bobot validitas 80–100%”
tidak selalu dicantumkan secara eksplisit dalam buku SDKI. Yang lebih tepat:
“tanda mayor memiliki sensitivitas dan validitas lebih tinggi dibanding tanda minor”.
E. Formulasi Penulisan Diagnosis Keperawatan
Formulasi diagnosis keperawatan disesuaikan dengan jenis diagnosis.
1. Diagnosis Aktual
Menggunakan format:
S → Signs/Symptoms
[Masalah] berhubungan dengan [Penyebab] dibuktikan dengan [Tanda/Gejala].
Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif dibuktikan dengan membran mukosa kering, turgor kulit menurun, dan frekuensi nadi meningkat.
2. Diagnosis Risiko
Menggunakan format:
R → Risk Factor
[Masalah] dibuktikan dengan [Faktor Risiko].
atau dapat juga ditulis:
Risiko … ditandai dengan faktor risiko …
Risiko ketidakseimbangan cairan dibuktikan dengan prosedur pembedahan mayor.
Koreksi Penting
Diagnosis risiko:
tidak memiliki tanda dan gejala,
hanya memiliki faktor risiko.
3. Diagnosis Keperawatan: Promosi Kesehatan
Menggunakan format:
S → Signs/Symptoms
[Masalah] dibuktikan dengan [Tanda/Gejala].
Kesiapan peningkatan keseimbangan cairan dibuktikan dengan pasien menyatakan keinginan meningkatkan asupan cairan dan mempertahankan hidrasi adekuat.
F. Pentingnya Tanda Mayor dan Minor Dalam Diagnosis Keperawatan
Tanda mayor dan minor sangat penting untuk memastikan akurasi diagnosis.
Contohnya pada diagnosis:
Penurunan Curah Jantung
Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu gejala ringan tanpa adanya indikator mayor yang mendukung.
Tanda mayor seperti:
perubahan irama jantung,
peningkatan JVP,
penurunan tekanan darah,
menjadi dasar validasi diagnosis sebelum intervensi dilakukan.
Hal ini bertujuan agar:
diagnosis lebih akurat,
intervensi tepat sasaran,
dokumentasi lebih valid,
keselamatan pasien terjaga.
G. Struktur Hierarki Penulisan Dokumen (Nomenklatur)
Dalam dokumentasi keperawatan formal, hierarki penulisan digunakan agar sistematika data lebih rapi.
A. Kategori Fisiologis
Perubahan irama jantung
Terjadi Perubahan preload
Perubahan afterload
Fraksi ejeksi menurun
PND ( Paroxysmal Nocturnal Dyspnea )
H. Hubungan SDKI, SLKI, dan SIKI
Ketiga standar keperawatan Indonesia digunakan secara berkesinambungan:
Pengkajian → SDKI → SLKI → SIKI → Implementasi → Evaluasi
I. Sumber Referensi
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. Jakarta: DPP PPNI.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Tim Pokja SLKI DPP PPNI. Jakarta: DPP PPNI.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Tim Pokja SIKI DPP PPNI. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI Publishing
NANDA International — Nursing Diagnoses: Definitions and Classification.
One response to “Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)”
Hari Perawat: Kenapa Harus 12 Mei? – Nursing.co.id 12/05/2026 […] 1965: International Council of Nurses (ICN) mulai merayakan hari ini secara internasional. Dengan melakukan koneksi keberbagai negara. Jika […] Reply
[…] 1965: International Council of Nurses (ICN) mulai merayakan hari ini secara internasional. Dengan melakukan koneksi keberbagai negara. Jika […]
Tinggalkan Balasan Batalkan balasan