一键重装系统工具 | U盘启动盘制作工具 | 误删文件恢复软件 | 硬盘数据抢救专家 | 电脑蓝屏修复助手 | C盘空间清理神器 | 电脑驱动离线安装工具 | 微信聊天记录恢复工具 | 照片误格式化恢复 | 电脑密码破解清除工具 | 系统崩溃紧急救援盘 | 电脑加速优化大师 | 电脑开不了机怎么重装系统 | 回收站清空了怎么恢复 | 硬盘分区丢失数据恢复 | 电脑卡顿重装系统有用吗 | U盘插入提示格式化数据恢复 | 电脑中毒文件被隐藏恢复 | 忘记电脑开机密码怎么办 | 新硬盘分区对齐工具 | 旧电脑装Win10流畅工具 | SD卡照片删除恢复免费版 | 移动硬盘打不开提示损坏修复 | 电脑无故重启系统修复工具 | 电脑小白一键重装神器 | 程序员电脑环境配置助手 | 设计师电脑字体/素材恢复工具 | 网吧网管系统维护工具箱 | 财务人员电脑发票备份恢复 | 学生党免费电脑系统安装包 | 电脑维修师傅必备工具盘 | 游戏玩家电脑性能优化助手 | 办公白领误删文档恢复软件 | 自媒体视频素材恢复工具 | 网课录制视频损坏修复工具 | 最好的U盘PE系统排名 | 数据恢复软件哪个最强 | 免费电脑助手与收费版区别 | 国产装机工具哪款无广告 | 离线版驱动助手推荐 | 轻量级电脑优化工具对比 | 支持NVMe驱动的PE工具 | 带网络功能的应急启动盘 | 2026最新版万能装机工具 | 支持Win11 24H2的PE工具 | 最新免激活系统重装工具 | 2026数据恢复软件破解版合集 | 纯净无捆绑装机助手V3.0 | 支持苹果M芯片的电脑助手 | 秋季更新版系统维护工具箱 | 电脑系统崩了怎么用U盘把重要资料拷贝出来 | 重装系统前哪些文件夹必须备份 | 固态硬盘误格式化还能恢复数据吗 | 如何制作一个既带PE又能存数据的双分区U盘 | 电脑总是弹窗广告用什么助手彻底拦截 后台管理
📢 欢迎访问系统之家!所有资源均经过安全检测。

Duh Aturan Main Tata Kelola Instrumen Ekonomi Tidak Jelas, Pemerintah harus Perbaiki Nih

发布时间:2026-09-22 | 浏览:1
📥 下载地址(文章开头)
安装英文版系统
Kebijakan Pemerintah JAKARTA, GENVOICE - Tidak dipungkiri jika saat ini aturan main atau rulebook penggunaan instrumen fiskal agar tujuan, jangka waktu, pembagian risiko, serta mekanisme keluarnya setiap kebijakan tidak jelas. Ini merupakan berbahaya dan Pemerintah harus memperbaikinya. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan rulebook penting agar jelas tata kelola instrumen ekonomi yang dimiliki pemerintah, termasuk pihak yang menggunakan, berapa lama pelaksanaannya serta bagaimana exit mechanism -nya. Indonesia kata Fakhrul telah memiliki beragam instrumen dan neraca ekonomi, mulai dari APBN dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga bank BUMN, BUMN, Danantara, kebijakan perpajakan, serta berbagai instrumen pembiayaan. Tahapan berikutnya adalah memperjelas urutan kebijakan, sasaran, serta pembagian fungsi dan risiko agar setiap instrumen digunakan oleh institusi yang paling mampu mengelolanya. Baca Juga: RI dan Jepang Kompak Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Soroti Energi hingga Keamanan Misalnya kebijakan penempatan dana SAL sebesar 200 triliun rupiah pada bank-bank milik negara. Kementerian Keuangan memastikan kebijakan tersebut tetap dilanjutkan hingga Juli 2027. Dengan pemanfaatan neraca pemerintah yang terarah diharapkan akan menarik lebih banyak pembiayaan swasta sehingga dukungan negara menjadi pemicu kegiatan ekonomi, bukan menggantikan peran swasta secara permanen. Sebab itu, APBN kata Fakhrul tetap memiliki peran penting sebagai peredam guncangan ekonomi, termasuk ketika terjadi tekanan pada harga energi. Dari sisi perpajakan, Fakhrul menilai kepastian pembayaran restitusi juga merupakan bagian dari kredibilitas fiskal karena pengembalian kelebihan pembayaran pajak berkaitan langsung dengan likuiditas dunia usaha. Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. "Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya. Baca Juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH 1 Hari demi Hemat BBM, Pengumuman Segera Dirilis Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. JAKARTA, GENVOICE - Tidak dipungkiri jika saat ini aturan main atau rulebook penggunaan instrumen fiskal agar tujuan, jangka waktu, pembagian risiko, serta mekanisme keluarnya setiap kebijakan tidak jelas. Ini merupakan berbahaya dan Pemerintah harus memperbaikinya. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan rulebook penting agar jelas tata kelola instrumen ekonomi yang dimiliki pemerintah, termasuk pihak yang menggunakan, berapa lama pelaksanaannya serta bagaimana exit mechanism -nya. Indonesia kata Fakhrul telah memiliki beragam instrumen dan neraca ekonomi, mulai dari APBN dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga bank BUMN, BUMN, Danantara, kebijakan perpajakan, serta berbagai instrumen pembiayaan. Tahapan berikutnya adalah memperjelas urutan kebijakan, sasaran, serta pembagian fungsi dan risiko agar setiap instrumen digunakan oleh institusi yang paling mampu mengelolanya. Baca Juga: RI dan Jepang Kompak Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Soroti Energi hingga Keamanan Misalnya kebijakan penempatan dana SAL sebesar 200 triliun rupiah pada bank-bank milik negara. Kementerian Keuangan memastikan kebijakan tersebut tetap dilanjutkan hingga Juli 2027. Dengan pemanfaatan neraca pemerintah yang terarah diharapkan akan menarik lebih banyak pembiayaan swasta sehingga dukungan negara menjadi pemicu kegiatan ekonomi, bukan menggantikan peran swasta secara permanen. Sebab itu, APBN kata Fakhrul tetap memiliki peran penting sebagai peredam guncangan ekonomi, termasuk ketika terjadi tekanan pada harga energi. Dari sisi perpajakan, Fakhrul menilai kepastian pembayaran restitusi juga merupakan bagian dari kredibilitas fiskal karena pengembalian kelebihan pembayaran pajak berkaitan langsung dengan likuiditas dunia usaha. Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. "Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya. Baca Juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH 1 Hari demi Hemat BBM, Pengumuman Segera Dirilis Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan rulebook penting agar jelas tata kelola instrumen ekonomi yang dimiliki pemerintah, termasuk pihak yang menggunakan, berapa lama pelaksanaannya serta bagaimana exit mechanism -nya. Indonesia kata Fakhrul telah memiliki beragam instrumen dan neraca ekonomi, mulai dari APBN dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga bank BUMN, BUMN, Danantara, kebijakan perpajakan, serta berbagai instrumen pembiayaan. Tahapan berikutnya adalah memperjelas urutan kebijakan, sasaran, serta pembagian fungsi dan risiko agar setiap instrumen digunakan oleh institusi yang paling mampu mengelolanya. Baca Juga: RI dan Jepang Kompak Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Soroti Energi hingga Keamanan Misalnya kebijakan penempatan dana SAL sebesar 200 triliun rupiah pada bank-bank milik negara. Kementerian Keuangan memastikan kebijakan tersebut tetap dilanjutkan hingga Juli 2027. Dengan pemanfaatan neraca pemerintah yang terarah diharapkan akan menarik lebih banyak pembiayaan swasta sehingga dukungan negara menjadi pemicu kegiatan ekonomi, bukan menggantikan peran swasta secara permanen. Sebab itu, APBN kata Fakhrul tetap memiliki peran penting sebagai peredam guncangan ekonomi, termasuk ketika terjadi tekanan pada harga energi. Dari sisi perpajakan, Fakhrul menilai kepastian pembayaran restitusi juga merupakan bagian dari kredibilitas fiskal karena pengembalian kelebihan pembayaran pajak berkaitan langsung dengan likuiditas dunia usaha. Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. "Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya. Baca Juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH 1 Hari demi Hemat BBM, Pengumuman Segera Dirilis Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Indonesia kata Fakhrul telah memiliki beragam instrumen dan neraca ekonomi, mulai dari APBN dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga bank BUMN, BUMN, Danantara, kebijakan perpajakan, serta berbagai instrumen pembiayaan. Tahapan berikutnya adalah memperjelas urutan kebijakan, sasaran, serta pembagian fungsi dan risiko agar setiap instrumen digunakan oleh institusi yang paling mampu mengelolanya. Baca Juga: RI dan Jepang Kompak Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Soroti Energi hingga Keamanan Misalnya kebijakan penempatan dana SAL sebesar 200 triliun rupiah pada bank-bank milik negara. Kementerian Keuangan memastikan kebijakan tersebut tetap dilanjutkan hingga Juli 2027. Dengan pemanfaatan neraca pemerintah yang terarah diharapkan akan menarik lebih banyak pembiayaan swasta sehingga dukungan negara menjadi pemicu kegiatan ekonomi, bukan menggantikan peran swasta secara permanen. Sebab itu, APBN kata Fakhrul tetap memiliki peran penting sebagai peredam guncangan ekonomi, termasuk ketika terjadi tekanan pada harga energi. Dari sisi perpajakan, Fakhrul menilai kepastian pembayaran restitusi juga merupakan bagian dari kredibilitas fiskal karena pengembalian kelebihan pembayaran pajak berkaitan langsung dengan likuiditas dunia usaha. Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. "Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya. Baca Juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH 1 Hari demi Hemat BBM, Pengumuman Segera Dirilis Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Misalnya kebijakan penempatan dana SAL sebesar 200 triliun rupiah pada bank-bank milik negara. Kementerian Keuangan memastikan kebijakan tersebut tetap dilanjutkan hingga Juli 2027. Dengan pemanfaatan neraca pemerintah yang terarah diharapkan akan menarik lebih banyak pembiayaan swasta sehingga dukungan negara menjadi pemicu kegiatan ekonomi, bukan menggantikan peran swasta secara permanen. Sebab itu, APBN kata Fakhrul tetap memiliki peran penting sebagai peredam guncangan ekonomi, termasuk ketika terjadi tekanan pada harga energi. Dari sisi perpajakan, Fakhrul menilai kepastian pembayaran restitusi juga merupakan bagian dari kredibilitas fiskal karena pengembalian kelebihan pembayaran pajak berkaitan langsung dengan likuiditas dunia usaha. Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. "Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya. Baca Juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH 1 Hari demi Hemat BBM, Pengumuman Segera Dirilis Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Dengan pemanfaatan neraca pemerintah yang terarah diharapkan akan menarik lebih banyak pembiayaan swasta sehingga dukungan negara menjadi pemicu kegiatan ekonomi, bukan menggantikan peran swasta secara permanen. Sebab itu, APBN kata Fakhrul tetap memiliki peran penting sebagai peredam guncangan ekonomi, termasuk ketika terjadi tekanan pada harga energi. Dari sisi perpajakan, Fakhrul menilai kepastian pembayaran restitusi juga merupakan bagian dari kredibilitas fiskal karena pengembalian kelebihan pembayaran pajak berkaitan langsung dengan likuiditas dunia usaha. Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. "Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya. Baca Juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH 1 Hari demi Hemat BBM, Pengumuman Segera Dirilis Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Sebab itu, APBN kata Fakhrul tetap memiliki peran penting sebagai peredam guncangan ekonomi, termasuk ketika terjadi tekanan pada harga energi. Dari sisi perpajakan, Fakhrul menilai kepastian pembayaran restitusi juga merupakan bagian dari kredibilitas fiskal karena pengembalian kelebihan pembayaran pajak berkaitan langsung dengan likuiditas dunia usaha. Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. "Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya. Baca Juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH 1 Hari demi Hemat BBM, Pengumuman Segera Dirilis Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty sepakat dengan adanya rule untuk disiplin fiskal. "Jadi siapa pun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya. Baca Juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH 1 Hari demi Hemat BBM, Pengumuman Segera Dirilis Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang. Jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. "Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," kata Telisa. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF). "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. "Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow . "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. "Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating turun sehingga capital inflow berbalik menjadi outflow , sehingga efeknya merambat kemana-mana. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama. "Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah.
📥 下载地址(文章中间)
安装英文版系统
"Kita tidak akan dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari,"pungkas Telisa. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai penyusunan aturan main atau rulebook instrumen fiskal harus diarahkan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Kredibilitas fiskal jelasnya tidak hanya dinilai dari selisih antara target pemerintah, seperti besaran defisit fiskal, dan realisasinya. Kredibilitas juga ditentukan oleh kesenjangan antara ekspektasi pasar dengan target serta hasil kebijakan yang dicapai pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. "Pasar merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam perekonomian nasional. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dengan mengabaikan keberadaan sektor swasta," kata Aloysius dalam keterangannya, Senin (21/9). Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Karena itu, rulebook penggunaan instrumen fiskal perlu disampaikan secara terbuka. Keterbukaan tersebut dibutuhkan agar pelaku pasar dapat mengukur arah kebijakan pemerintah dan menyusun ekspektasi sebelum mengambil keputusan bisnis. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Aloysius mengatakan, selama ini pelaku pasar masih kerap menghadapi ketidakjelasan dan inkonsistensi arah kebijakan fiskal. Konsistensi dalam menjalankan rulebook nantinya akan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Ia menegaskan, aturan tersebut harus ditempatkan di atas kepentingan maupun preferensi pejabat tertentu. Dengan demikian, rulebook tetap dapat menjadi pedoman meskipun terjadi pergantian menteri keuangan atau pejabat terkait. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. "Aturan tersebut tetap menjadi pedoman kendati terjadi pergantian menteri ataupun pejabat terkait," ujarnya. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Meski demikian, Aloysius mengatakan aturan fiskal tidak boleh terlalu kaku. Pemerintah tetap memerlukan ruang fleksibilitas yang terukur untuk merespons perubahan cepat, terutama guncangan global yang sebelumnya sulit diperkirakan. Namun, fleksibilitas tersebut, harus tetap memberikan kepastian hukum dan menjaga kepercayaan pasar. Aturan itu tidak boleh membuka peluang diskresi yang berlebihan bagi pemerintah. Duh Aturan Main Tata Kelola Instrumen Ekonomi Tidak Jelas, Pemerintah harus Perbaiki Nih Kebijakan Pemerintah Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar! Data Terbaru CREA, 3.700 Jiwa Melayang di 15 Provinsi Akibat Karhutla dan Non Karhutla Pemerintah harus Gercep Ambil Bagian dalam Pengembangan Industri Energi Terbarukan Di Hadapan DPR, Calon Gubernur BI Jabarkan 'Pekerjaan Rumah' Perekonomian Indonesia
📥 下载地址(文章结尾)
安装英文版系统